Pura Dalem Penataran Ped, Monumen Kemenangan Cinta yang Unik dan Khas

Dongeng dari Nusa Penida Pan Sampleg dan Batu Besar
Desember 31, 2017
Wisata Nusa Penida Terlengkap, Termurah, dan Ternyaman, Klik Disini
Mei 2, 2018

Pura Dalem Penataran Ped, Monumen Kemenangan Cinta yang Unik dan Khas

Budha Wage ini adalah puncak piodalan di Pura Dalem Penataran Ped, Nusa Penida. Pura yang berlokasi di Desa Ped, Nusa Penida ini merupakan salah satu Pura Sad Khayangan yang ada di Bali. Sejarah pendirian pura ini dapat ditelusuri dari perjalanan Dang Hyang Nirartha di Pulau Bali.  Ketika itu, Dang Hyang Nirarta bersama Arya Sentong diutus oleh Raja Waturenggong ke Nusa Penida untuk menghentikan kebiasaan buruk  I Gusti Ngurah Mecaling, yaitu kebiasaan membasmi dan memangsa manusia di Pulau Bali. Di samping itu, dalam konteks kekinian, Pura Dalem Penataran Ped juga terus berubah dalam hal arsitekturnya seiring berubahnya selera zaman. Namun, Pura Dalem Penataran Ped tetap menyimpan masalalu yang yang menarik untuk dipelajari sampai hari ini.

Pura Dalem Ped Nusa Penida

Pura Dalem Ped Nusa Penida

Monumen Kemenangan Cinta

Dari versi sejarah Bali/zaman Kerajaan Waturenggong, sejarah Pura Dalem Penataran Ped dimulai dari Kerajaan Waturenggong. Sejarah ini menyebutkan bahwa setelah I Gusti Ngurah Batuan dinobatkan menjadi raja terjadi pemberontakan oleh I Gusti Ngurah Mecaling. Dengan senjata cepu manik, akihirnya I Gusti Ngurah Mecaling dapat dikalahkan oleh I Gusti Ngurah Batuan dalam pemberontakan itu. Atas kekalahannya itu, I Gusti Ngurah mecaling dirarung/dibuang  ke Nusa Penida.

Di Nusa Penida, I Gusti Ngurah Mecaling mendapat lesensi/ijin dari Raja Waturenggong untuk membasmi dan memangsa manusia-manusia yang bersalah di Pulau Bali pada Sasih Keenem, Kepitu, sampai pertengahan Sasih Keulu. Namun lama kelamaan, ijin itu merugikan Raja Waturenggong yang seharusnya melindungi rakyatnya. Untuk menghentikan kebiasaan I Gusti Ngurah Mecaling itu, Raja Waturenggong mengutus Arya Sentong dan Dang Hyang Nirarta ke Nusa Penida.

Setelah sampai di Nusa Penida, terjadialah perang tanding antara I Gusti Ngurah Mecaling dan Arya Sentong. Perang tanding ini hanya dilakukan dengan menggunakan ilmu batin antara I Gusti Ngurah Mecaling dan Arya Sentong, sehingga tidak ada suara dentingan pedang atau keris. Oleh karena itu, perang tanding ini disebut miyegan tanpa suara. Namun ketika perang sedang berlangsung, antara Arya Sentong dan putri I Gusti Ngurah Mecaling telah saling jatuh cinta. Hal ini diketahui oleh I Gusti Ngurah Mecaling dan berdasarkan penjelasan Dang Hyang Nirarta disebutkan bahwa putrinya dan Arya Sentong memang berjondoh. Mengetahui hal itu, I Gusti Ngurah Mecaling kemudian menyerahkan putrinya dan semua kesaktiannya kepada Arya Sentong. I Gusti Ngurah Mecaling kemudian moksa. Sebagai cihna(ciri) beliau moksa, maka di tempat itu didirikanlah Pura Dalem Penataran Ped. Inilah pembuktian jiwa besar seorang I Gusti Ngurah Mecaling, bijaksana menilai bahwa cinta lebih mulia dibandingkan dengan perang ,yang kini masih bisa kita saksikan dalam ritus Pura Dalem Penataran Ped.

 

Tetamian yang Dijaga Secara Unik

Dalam perjalanan waktu, pura ini telah beberapa kali mengalami pemugaran. Kondisi pemugaran terakhir masih tersisa pada batu paras putih. Namun, sebuah pelinggih yang berada di Pura Segara tidak pernah tersentuh oleh pemugaran itu. Pelinggih ini masih tetap dibiarkan seperti apa adanya, walaupun pada bangunan-bangunan yang lainnya telah dipugar dengan material paras putih.

Cara pemugaran seperti ini, menurut C.J. Grader, seorang peneliti barat yang pernah berkunjung ke Nusa Penida pada tahun 1937, menyebutkan bahwa cara pemugaran seperti ini adalah cara pemugaran yang unik kan khas. Peneliti barat ini kemudian menyebutkan bahwa cara pemugaran seperti ini berbeda dengan cara pemugaran pura-pura yang ada di Bali. Hal itu karena orang-orang Nusa Penida bila memugar pura, bangunan lama yang dianggap sangat keramat tidak tersentuh oleh pemugaran. Apabila mereka ingin bangunan baru, orang-orang Nusa Penida akan mendirikannya di samping banguan lama atau tetamian (peninggalan) yang ada, yang disesuaikan dengan keadaan atau selera masa kini. Inilah cara unik orang-orang Nusa Penida menjaga tetamian yang diwariskan oleh leluluhurnya.

 

Lay Out yang Khas

Pura Dalem Penataran Ped terdiri dari empat arial yang dibuat terpisah. Pura Ratu Gede terletak pada posisi paling barat. Pura Taman terletak di areal paling utara. Sementara itu, pada arial timur terdapat Pura Taman. Untuk arial di tengah terdapat Pura Ratu Emas.

Claire Holt yang berkunjung ke Nusa Penida pada tahun 1936, menyebutkan bahwa Pura Dalem Penataran Ped adalah sebuah kompleks pura dengan lay out yang sangat menarik. Hal ini juga karena terdapat sebuah taman di samping pura (pada Pura Taman). Tata ruang yang demikian, menurut Claire Holt, tidak umum pada tata ruang pura-pura yang ada di Bali, dan hanya ada di Nusa Penida. Lay out atau tata ruang ini menjadi lay out atau tata ruang yang mencirikan identitas khas Nusa Penida.