Dongeng dari Nusa Penida Pan Sampleg dan Batu Besar

Paket Wisata Tirta Yatra Nusa Penida Bali
Paket Tirtaytra
Desember 31, 2017
Pura Dalem Penataran Ped, Monumen Kemenangan Cinta yang Unik dan Khas
Desember 31, 2017

Dongeng dari Nusa Penida Pan Sampleg dan Batu Besar

Dongeng dari Nusa Penida | Jauh sebelum laut Nusa Penida ditanami oleh patok dan anjir untuk industri pertanian baru, industri pertanian rumput laut itu, juga jauh sebelum jalan-jalan setapak Nusa Penida disulap menjadi jalan beraspal, dan juga jauh sebelum orang-orang Nusa Penida mengenal rumah yang dibangun dengan tembok beton, laut Nusa Penida masih memelihara terumbu karang yang beraneka rupa dan bentuk. Ikan yang berwarna-warni dengan berbagai ukuran menari  di dasar laut yang biru, kemudian bersembunyi di balik batu-batu karang itu. Lambaian daun-daun perdu laut yang menempel pada permukaan batu karang yang menjadi lumpur laut, bercerita tentang angin yang tenggelam ke dalam air laut kepada lambaian pucuk-pucuk daun kelapa.

Ketika itu, di Nusa Penida hidup seorang laki-laki yang telah sampai pada kulit yang keriput, laki-laki paruh baya. Di dalam sebuah gubuk kecil yang jauh dari sederhana, gubuk yang atapnya terbuat dari papalan, dan dindingnya terbuat dari kelabang, tidak ada bale, hanya selembar tikar pandan usang yang digelar di lantai tanah berpasir, lantai gubuk kecil itu, di gubuk kecil yang dibangun di bibir pantai Nusa Penida itu, Pan Sampleg tinggal bersama seorang istri dan dua orang anaknya.

Burung-burung kecil bernyanyi tentang langit timur yang menjadi tembaga. Matahari mulai membasuh keringat malam yang dingin, yang tersisa pada ujung-ujung daun gebung itu. Pagi telah terbangun bersama mimpi-mimpi Pan Sampleg. Pagi ini, seperti pada pagi-pagi kemarin, bubu, boboh, ujuk, tuba, dan dungki telah disiapkan oleh Pan Sampleg. Hanya pada bubu, boboh, ujuk, dan tuba itu, Pan Sampleg berharap kantong-kantong dungkinya akan sesak oleh ikan-ikan tangkapannya hari ini. Hanya dengan itu, dia bisa menghidupi istri dan dua orang anaknya, sebagai seorang penangkap ikan. Ikan-ikan tangkapannya biasanya langsung dijual atau ditukar dengan jagung, singkong, kacang, komak atau kemale, dari petani-petani tegalan Nusa Penida.

Laut tidak sebaik harapan. Hari ini, pagi telah berubah menjadi sinar matahari yang hampir menjadi tua, karena sore sebentar lagi akan datang. Bubu dan boboh Pan Sampleg tidak pernah bisa menjebak ikan. Ujuknya juga tidak pernah mampu menjemput ikan dari lubang-lubang batu karang itu. Aroma remukan kayu tuba yang dikirim pada gerakan air laut itu, juga tidak berhasil memabukkan ikan-ikan yang bersembunyi di balik batu karang. Kantong dungki Pan Sampleg sepi dari ikan-ikan tangkapan.

Pan Sampleg hanyut oleh rasa takut, takut anak dan istrinya tidak bisa makan, karena ikan tidak kunjung dipetik pada laut. Hidup dalam kemiskinan pasti akan terus melandanya. Di tengah ketersesatannya pada rasa takut itu, Pan Sampleg mengambil sebutir batu laut, batu yang menyerupai ukuran telor ayam itu, dan berkata pada batu kecil itu, “ Seandainya hari ini aku akan mendapat ikan yang banyak dan menjadi orang kaya, aku akan membungkusmu dengan jaja uli”. Pada hentakan deburan ombak yang mengecap garam, dan pada hembusan kencang angin yang mengilir air laut, janji yang diucapkan Pan Sampleg disepakati oleh batu laut itu. Janji telah menjadi sesangi pada batu dan laut. Bubu dan boboh sesak oleh ikan yang terjebak. Ikan-ikan di lubang batu karang itu, dijemput dan dipanggang, memenuhi ujuk itu. Aroma tuba memabukkkan ikan-ikan yang bersembunyi di balik batu karang. Dungki tidak mampu menampung ikan tangkapan. Pan Sampleg mendapat ikan tangkapan yang sangat banyak. Dari ikan-ikan tangkapan yang kemudian dijual itu, Kini Pan Sampleg terbebas dari kemiskinan. Dia dan keluarganya menjadi orang kaya.

Bintang yang menjadi kunang-kunang dari sinar bulan yang belum sampai ke tanah, telah melupakan janji malam pada tanah basah. Pan Sampleg telah melupakan sesangi yang diucapkan pada batu dan laut itu. Hidup yang baru, hidup menjadi orang kaya, telah menghanyutkan Pan Sampleg ke muara kesombongan, kesombongan untuk tidak mengakui bantuan batu dan laut itu pada kekayaan yang dia miliki sekarang. Baginya, hidup yang bergelimang harta sekarang ini adalah berkat kerja kerasnya sendiri. Tidak ada bantuan dari apa atau siapapun, termasuk batu dan laut itu.

Batu dan laut tidak pernah lupa pada sesangi yang telah disepakati dengan Pan Sampleg, seperti ombak yang tidak pernah lupa mengecap garam pada buih yang menjadi pasir. Pada lidah ombak yang selalu dikirim oleh laut ke rumah Pan Sampleg, lidah ombak yang selalu mengejar persembunyian Pan Sampleg, batu dan laut Nusa Penida itu mengingatkan Pan Sampleg akan sesangi yang telah diucapkannya. Seperti daun yang telah menjadi tanah dan telah mengingatkan ranting pada kompos itu, Pan Sampleg akhirnya mengingat kembali sesangi yang pernah dijanjikan pada batu dan laut Nusa Penida itu, dan akan membayarnya.

Hari yang baik telah ditetapkan untuk membayar sesangi itu. Pan Sampleg telah memetik sebutir kelapa dari tegalannya. Aliter ketan telah disiapkan untuk pembuatan jaja uli oleh Pan Sampleg, untuk membungkus batu kecil itu. Pan Sampleg segera menyuruh istrinya untuk membuat jaja uli.

Jaja uli pun telah selesai dibuat. Pan Sampleg segera membawa jaja uli yang baru diselesaikan oleh istrinya itu ke laut untuk membungkus batu  kecil itu. Sesampai di laut, Pan Sampleg segera membungkus batu kecil itu dengan jaja uli. Namun ketika Pan Sampleg sedang membungkus batu kecil itu, tiba-tiba saja batu kecil itu membesar. Jaja uli yang dibawa Pan Sampleg, yang semula diperkirakan cukup untuk membungkus batu itu, ternyata tidak cukup untuk membungkus batu kecil itu. Ukuran batu itu kini telah menjadi lebih besar dari semula.

Hari ini, setelah jaja uli dari aliter ketan tidak cukup untuk membungkus batu kecil itu, Pan Sampleg kini menyuruh kembali istrinya untuk membuat jaja uli dengan agentang ketan. Namun seperti tanah yang bercerita air untuk batang yang terus membesar pada daun yang sampai pada hijau, batu itu juga terus membesar ketika Pan Sampleg lagi membungkusnya dengan  jaja uli. Agentang jaja uli tidak cukup untuk membungkus batu yang terus membesar itu.

Duang gentang, telung gentang, petang gentang, hingga sampai limang gentang, Pan Sampleg menyuruh istrinya untuk membuat jaja uli untuk membungkus batu kecil itu. Namun, batu itu terus saja membesar. Jaja uli yang terus dibuat selalu tidak cukup untuk membungkusnya. Istri Pan Sampleg sudah tidak kuat lagi membuat jaja uli sendirian, karena batu itu terus saja membesar. Pan Sampleg akhirnya nedunang karma istri di banjarnya untuk membantunya membuat jaja uli. Suasana di rumah Pan Sampleg menjadi ramai, ramai oleh cerita ataupun canda tawa para ibu-ibu yang sedang membuat jaja uli. Berbale-bale ketan dan bertakep-takep jaja uli telah dihasilkan oleh ibu-ibu itu. Semua kamar rumah Pan Sampleg telah penuh sesak oleh tumpukan jaja uli.